BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Era modern saat ini, khususnya di Indonesia banyak terdapat
berbagai macam gaya pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dari berbagai macam gaya tersebut
mempunyai tujuan yang sama yaitu agar para mahasiswa lebih
aktif dan terjadi perubahan perilaku
akibat proses belajar tersebut, diantaranya dari hal tidak bisa menjadi bisa,
hal sederhana menjadi kompleks.
Para pendidik atau pengajar pada saat ini dapat melakukan
tugas dengan baik karena pendidik mengetahui tentang teori-teori terdahulu yang
menjadi sebuah acuan bagaimana pendekatan dan metode yang digunakan pada
peserta didik untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dan penyampaian pesan
dari proses belajar tersebut, yaitu pesan yang disampaikan oleh pendidik dapat
diterima dan dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik.
Salah satu tren era modern saat ini dalam
teori belajar adalah menjauhi teori yang luas dan komprehensif dan menuju ke
sistem yang lebih kecil. Para periset memfokuskan diri pada suatu area yang
mereka minati dan mengeksplorasinya secara menyeluruh. Keluasaan akan
mengorbankan kedalaman. Contoh dari tren ini apa yang disebut sebagai teoretisi
belajar statistik, yang berusaha membangun minisistem yang kukuh untuk meneliti
sederetan fenomena belajar. Salah satu yang paling awal adalah teori menurut Estes pada
tahun 1950.
Dari penjelasan di atas, maka dalam makalah ini penulis akan
menjelaskan tentang teori yang dikemukakan oleh William Kaye Estes yang lebih
dikenal dengan sebutan teori Estes.
B. Rumusan
Masalah
Dari uraian di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam
penulisan makalah ini adalah:
1. Siapa William Kaye Estes?
2. Teori apa yang
dikemukakan oleh Estes?
3. Bagaimana teori yang
dikemukakan oleh Estes?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui apa
saja dan bagaimana implementasi dari teori yang dikemukan oleh Estes.
D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Bagi Mahasiswa
Dapat
mengetahui pengetahuan tentang teori belajar menurut Estes dan
manfaat yang dapat diterapkan dalam proses belajar saat ini.
2. Bagi Dosen Pengampu
Mata Kuliah
Diharapkan
dapat membimbing dan mengarahkan penulis, mahasiswa dalam memperoleh
pengetahuan tentang teori belajar menurut Estes dan manfaat
yang akan ditimbulkan dari
teori tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
William
Kaye Estes
William Kaye Estes lahir pada tahun
1919, mengawali karier profesionalnya di University Of Indiana. Estes kemudian
pindah ke Stanford University dan selanjutnya ke Rockfeller University dan
mengakhiri kariernya di Havard di mana dia mendapat gelar profesor emeritus . Pada 1997 Estes
dianugerahi Medal of Science yang merupakan penghargaan
tertinggi yang diberikan oleh National Sience Foundation. Penghargaan ini
diberikan berkat jasanya bagi teori kognisi dan belajar fundamental yang
mengubah bidang psikologi eksperimental dan memicu perkembangan ilmu kognitif
kuantitatif. Metode modeling kuantitatif dan penekanannya pada ketepatan dan
ketelitian telah menjadi standar bagi ilmu psikologi modern.
William K. Estes belajar bersama Skinner ketika Skinner berada di
Universitas Minnesota dan di sana pula ia menerima gelar Ph. D-nya di bidang
psikologi pada tahun 1943. Karya bersama Estes dengan Skinner mengenai efek
hukuman menghasilkan kontribusi penting bagi pemikir Skinner dalam topik
tersebut. Bagaimanapun juga, minatnya untuk membangun model-model pembelajaran
matematis telah memisahkan arah yang ditempuhnya dari bisa antiteoretis
Skinner. Selain itu, asumsi-asumsi dalam
teori Estes nampak lebih memperlihatkan pengaruh Guthrie yang
tidak pernah menjadi rekan studinya,karena pengaruh Skinner.
B.
Konsep
Teoretis Utama
Ada beberapa asumsi yang dibuat oleh Estes yang dijabarkan
sebagai berikut:
Asumsi 1. Situasi
belajar terdiri dari banyak elemen stimulus dalam jumlah tertentu.
Elemen-elemen ini terdiri dari banyak hal yang dapat dialami pembelajar pada awal
percobaan belajar. Stimuli-stimuli itu bisa mencakup kejadian eksperimental
seperti cahaya, suara berisik, materi verbal yang disajikan dalam drum memori,
palang dalam kotak Skinner, jalur T. Stimuli itu juga bisa stimuli yang dapat
diubah atau stimuli sementara seperti perilaku eksperimenter, suhu, suara
tambahan di dalam dan di luar ruang dan kondisi di dalam diri subjek eksperimen
seperti keletihan atau sakit kepala. Semua elemen stimulus ini secara kolektif
disimbolkan sebagai S. Sekali lagi, S adalah
jumlah total dari stimuli yang mengiringi satu percobaan dalam situasi belajar.
Asumsi 2. Semua
respon yang diberikan dalam situasi eksperimen dapat digolongkan menjadi dua
kategori. Jika responnya adalah yang dicari oleh eksperimenter (seperti keluarnya
air liur, mata berkedip, menekan palang, berbelok ke kanan di jalur T, atau
melafalkan suku kata yang tak bermakna dengan benar), ini dinamakan respon A1. Jika
responnya adalah bukan yang dicari oleh eksperimenter diberi label A2.
Jadi, Estes membagi semua respon yang mungkin muncul dalam eksperimen belajar
menjadi dua kelompok, (A1) respon yang benar atau (A2)
respon yang lainnya.
Asumsi 3. Semua
elemen di S dilekatkan dengan A1 atau A2.
Ini adalah situasi all or nothing. Semua unsur stimulus dalam S adalah
dikondisikan ke respon yang diinginkan atau benar (A1) atau ke
respon yang tidak relevan atau salah (A2).Pada awal eksperimen,
hampir semua stimuli akan dikondisikan ke A2 akan menimbulkan respon A2. Respon
yang benar terjadi hanya setelah respon dihubungkan dengan stimuli dalam
konteks eksperimental.
Asumsi 4. Pembelajar
terbatas kemampuannya dalam mengalami S. Pembelajar mengalami hanya sebagian
dari stimuli yang tersedia pada setiap
percobaan belajar dan besarnya sampel diasumsikan tetap konstan di sepanjang
eksperimen. Proporsi konstan dari S yang dialami pada awal setiap percobaan
belajar dilambangkan dengan Ɵ (theta). Sesudah setiap percobaan, elemen Ɵ
dikembalikan ke S. Jadi teori Estes mengamsusikan sampling dengan penggantian (sampling
with replacement). Elemen-elemen yang dijadikan sampel pada satu percobaan
mungkin akan dijadikan sampel lagi pada percobaan selanjutnya.
.Asumsi 5. Percobaan belajar
berakhir ketika respon terjadi, jika
respon A1menghentikan percobaan elemen-elemen stimulus dikondisikan
dalam respon A1.
Asumsi 6. Karena Elemen
di (ө) dikembalikan
ke S pada akhir percobaan, dan arena tetha (ө) yang dijadikan
sampel pada awal percobaan belajar pada dasarnya adalah acak, proporsi elemen
yang dikondisikan ke A1 dalam S akan
tercermin dalam elemen dalam tetha (ө) pada awal
setiap percobaan baru.
Berdasarkan asumsi-asumsi diatas, maka Estes mengemukakan empat konsep teoretis
utama , yaitu:
1. Generalisasi
Generalisasi dari situasi belajar awal
ke situasi belajar lainnya dapat dengan mudah dijelaskan dengan teori sampling stimulus. Transfer
terjadi sepanjang dua situasi memiliki elemen stimulus yang sama. Jika banyak
dari elemen yang sebelumnya dikondisikan ke respon A1 ada didalam situasi
belajar yang baru, probabilitas respon A1 akan muncul ke dalam situasi baru itu
akan cukup tinggi.
2. Pelenyapan
Estes menjelaskan problem pelenyapan
dengan cara yang pada dasarnya sama dengan yang dilakukan Guthrie karena dalam
pelenyapan satu percobaan biasanya diakhiri setelah subjek melakukan sesuatu
selain A1, elemen stimulus yang sebelumnya dikondisikan ke A1 pelan-pelan akan
kembali lagi ke A2. Hukum untuk pelenyapan adalah sama. Apa yang dinamakan pelenyapan
muncul setiap kali kondisi disusun sedemikian rupa sehingga elemen stimulus
digeser dari respon A1 ke respon A2.
3. Pemulihan
Spontan
Merupakan munculnya kembali respon yang
dikondisikan setelah respon itu mengalami pelenyapan.dengan kata lain pemulihan spontan
dijelaskan dengan mengasumsikan bahwa proses pelenyapan (pergeseran elemen dari
A1 ke A2) pada awalnya tidak pernah komplet.
4. Pencocokan
Probabilitas
Eksperimen pencocokan probabilitas tradisional adalah
menggunakan sinyal cahaya yang diikuti satu atau dua cahaya lain. Ketika sinyal
menyala, subjek percobaan menduga cahaya mana dari dua cahaya lain yang akan
muncul. Misal, cahaya kanan muncul 80% dari waktu, subjek akan memprediksi
bahwa cahaya itu akan muncul 80% dari waktu percobaan.
C.
Model belajar markov menurut estes
Semua teori belajar statistikal bersifat probabilistik,
yakni variabel bebas yang mereka studi adalah probabilitas respon. Tetapi ada
perbedaan opini mengenai apa sifat dari belajar yang ditunjukkan oleh perubahan
probabilitas respon ini kepada kita.
Perdebatan klasiknya adalah apakah belajar itu gradual atau langsung lengkap
dalam satu kali percobaan. Thorndike berpendapat bahwa belajar adalah bertahap
dan bertambah sedikit demi sedikit dari satu percobaan kepercobaan selanjutnya.
Hull dan Skinner sepakat dengan Thorndike. Guithrie berpendapat lain dengan
mengatakan bahwa belajar terjadi dalam cara all-0r-none (secara sekaligus atau
tidak sama sekali) , namun terlihat gradual karena kompleknya tugas yang mesti
dipelajari.
Teori sampling stimulus estes menerima sudut pandang
inkremental (gradual) maupun all-or-none tentang proses belajar.elemen yang
dijadikan sampel ini dikondisikan secara all-or-none ke respon apa saja yang
menghentikan percobaan itu .aan tetapi karena hanya sebagian kecil dari
proporsi elemen yang dikondisiskan pada satu percobaan tertentu , proses
belajar berlangsung sedikit demi sedikit, dan karenanya maka tercipta kurva
akselerasi belajar negatif. Sekali lagi, pendapat estes adalah bahwa elemen
stimulus yang dijadikan sampel pada satu percobaan tertentu dikndisikan denan
cara all-or-none; nmun karena hanya sedikit yang dijadikan sampel pada satu
percobaan , belajar berlangsung secara inkremental atau gradual. Probabilitas
munculnya respon A1 berubah secara gradual dari satu percobaan ke percobaan
selanjutnya dan jika jumlah total elemen
stimulus yang ada dalm eksperimen cukup banyak, sifat all-or-none ini tidak
dapat dideteksi. Artinya, dengan banyak elemen stimulus yang ada dalam satu
eksperimen, maka hanya terjadi perubahan
kecil dalam probabilitas respon dari satu percobaan belajar kepercobaan belajar
selanjutnya, dan ketika probabilitas di plot, ia akan tampak inkremental
etimbang all-or-none.
Belakangan,Estes mendesain sejumlah studi yang memungkinkan
proses belajar diamati secara lebih detail ( misalnya, Estes,1960, 1964a;Estes,
Hopkins, & Crothers,1960). Studi studi ini menunjukkan bahwa ketika jumlah
elemen yang dijadikan sampel sangat sedikit, belajar jelas berlangsung
all-or-none; dalam kenyataannya, dapat dikatakan bahwa belajar terjadi secara
lengkap dalam stu percobaan atau tidak terjadi sama sekali.—tidak ada posisi
ditengah-tengahnya.perubahn cepat dari keadaan belum belajar ke keadaan telah
belajar ini dikatakan berhubungan dengan Markov process( proses Markov), yang
dkarakterisasikan oleh perubahan mendadak dalam probabilitas respons ketimbang
perubahan pelan dan bertahap dari satu percobaan ke percobaan selanjutnya.
D.
Estes dn psikologi kognitif
Meskipun Estes seorang teoritisi kontiguitas, namun ditahun
tahun belakangan ini dia lebih menekankan pada mekanisme kognitif dalam
analisisnya terhadap belajar(lihat, misalnya, Estes 1969a,1969b, 1971, 1972,
1973, 1978). Seperti yang telah kita lihat, analisis awalnya mengikuti pendapat
guthrie dengan mengasumsikan bahwa apapun stimuli yang ada pada saat terminasi
suatu percobaan belajar akan diasosiasikan dengan respon yang menghentikan itu.
Baik Guthrie maupun estes memandang belajar sebagai asosiasikejadian yang
terjadi bersamaan secara mekanis dan otomatis. Pada intinya, organisme,
termasuk manusia, dianggap sebagai mesin yang dapat merasakan , mencatat, dan
merespon walaupun masih bersifat mekanistis, analisis Estes yang lebih
belakangan lebih kompleks karena ia mempertimbangkan pula pengaruh dari peristiwa kognitif.
Pentingnya memori. Pada awalnya Estes berpendapat bahwa stimuli dan respon menjadi
di asosiasikan oleh kontiguitas, dan setelah diasosiasikan, ketika stimuli
terjadi, mereka akan mengahasilkan respon yang diasosiasikan pada stimuli itu.
Belakangan, Estes menambahkan elemen ketiga ke dalam analisisnya,yakni memori
atau ingatan ( lihat, misalnya, Estes 1969a, 1972, 1973, 1978). Dalam analisis
Estes belakangan ini, stimuli tak langsung menimbulkan respon, tetapi ia
membangkitkan memori dari pengalaman sebelumnya dan interaksi dari stimuli saat
itu dengan memori tentang pengalaman sebelumnya itulah yang menghasilkan
prilaku.
Memori juga berperan penting dalam analisis Estes terhadap
operasi kognitif tingkat tinggi seperti yang melibatkan bahasa. Dengan mengikuti
tradisi emperis inggris, estes mengasumsikan
bahwa memori- memori sederhana akan dikombinasikan untuk membentuk
memori kompleks.
Model array kognitif: klasifikasi
dan kategorisasi
Estes memandang teori
sampling stimulus (SST) sebagai
perluasan matematis dari teori transfer elemen identik Thorndike. Yakni teori
itu dikembangkan untuk membuat prideksi yang tepat tentang transfer training
dari situasi satu ke situasi lain, berdasarkan elemen elemen stimulus yang sama
untuk keduanya.dalam karya yang lebih
baru, Estes (1994) menjelaskan problem yang pertama kali dikaji oleh Medin dan
Shaffer(1978) dan meneruskan pengembangan pendekatan elemen identik Thorndike.
tetapi, kali ini modelnya di aplikasikan secara spesifik ke perilaku
mengklasifikasi dan mengkategorisasi. Meneliti suatu makhluk, mengamati bahwa
ia berbulu, bisa terbang, dan bertelur dan kemudian menyebutnya sebagai
‘burung’ adalah contoh dari jenis perilaku ini.
Dalam model klasifikasi kognitif Estes orang di asumsikan
akan meneliti stimulus kompleks dan memerhatikan ( atau mengambil sampel) ciri-
cirinya yang menonjol atau penting . seperti dalam SST, ciri ciri stimulus itu,
bersama dengan informasi tentang kategori atau keanggotaan kelasnya, dipelajari
secara all-or-none, dalam satu kali percobaan.pada poin inilah pendekatan
kognitif Estes, yang dinamakan array model ( model array), berbeda dengan SST.
Dalam kasus model array , karakteristik stimulus dan designasi kategori disimpan dalam memori sebagai suatu
perangkat-suatu array-yang menyimpan ciri-ciri atau atribut penting dan siap
dipakai untuk membandingkan atribut itu dengan atribut stimuli lain.ketika
stimulus baru ditemui, ciri menonjol dari stimulus baru ini akan dibandingkan
dengan stimulus yang telah dipelajari dan disimpan sebagai seperangkat ciri.
Klasifikasi stimulus baru itu kemudian akan didasarkan pada kesamaan atributnya
dengan atribut stimulus yang tersimpan dalam array memori.ada perbedaan
tradisional antara SSt dan model array yang patut dikemukakan. Fokus SST adalah
asosiasi stimulus-respon yang dibentuk di masa lalu dan pada cara asosiasi ini
diakumulasikan. Fokus medel array adalah pada klasifikasi kejadian yang ditemui
dimasa sekarang atau yang akan ditemui di masa depan.
SST Mengasumsikan Hubungan Stimulus Aditif. Meskipun baik itu SST maupun model array mereflesikan teori
transfer elemen identik Thorndike, keduanya merefleksikannya dengan cara
berbeda.
Satu problem signifikan dalam SST adalah bahwa dalam situasi
yang lebih kompleks, teori ini tidak dapat menjelaskan efek detrimental yang
muncul ketika pembelajar manusia dan nonmanusia diuji dalam konteks, atau
dengan stimuli yang jauh berbeda dari konteks yang ada saat training. Dalam
bukunya yang berjudul classification and Cognition, Estes (1994) menunjukkan
bahwa kelemahan utamanya adalah pada asumsinya mengenai efek stimulus aditif
–yakni ide konseptual dan matematis, yang ditunjukkan dalam contoh kita yang
menyatakan bahwa elemen-elemen stimulus berpadu dalam cara aditif untuk
memunculkan respon yang dipelajari. Sebagai alternatifnya, model array
mengasumsikan bahwa elemen kombinasi secar multiplikatif ( multiplicatively)
untuk memunculkan respons.
Model Array Mengasumsikan Hubungan Stimulus Multiplikatif.
Menurut model array, kita menilai
kesamaan stimuli dalam konteks baru yang berhubungan dengan stimuli dalam
situasi training dengan membandingkan atribut-atribut dari elemen itu.
Model array dimaksudkan untuk mendiskripsikan dan
memprediksi bagaimana orang menilai stimuli untuk dikategorikan dalam kategori
spesifik, bukan bagaimana respons yang dikondisikan digeneralisasikan atau
ditransfer ke situasi baru, dan kita dapat menggunakan stimuli dari problem
generalisasi kita untuk mendemonstrasikan dasar-dasar model array.
v Item
dalam Satu Kategori adalah Sama Satu dengan yang Lain.
Langkah
pertama dalam mengembangkan model array untuk problem diatas adalah menentukan
item-item didalam kategori.
v Item-item
Stimulus Mempresentasikan Seluruh Kategori.
Langkah
selanjutnya dalam mengaplikasikan model array adalah
menentukan sejauh mana stimulus parsial adalah mewakili kategorinya secara
kesuluruhan.
Estes (1994) menyatakan dalam tulisannya bahwa : Pada awal setiap percobaan setelah yang pertama, subjek menghitung
kesamaan anatara contoh-contoh yang disajikan ke setiap anggota dari array
memori saat ini, menjumlahkan kesamaannya dengan semua anggota yang
diasosiasikan dengan masing-masing kategori, menghitung probabilitas setiap kategori, dan memberikan
respons berdasarkan probabilitas ini. Tentu saja, tidak diasumsikan bahwa
individu menjalankan perhitungan ini seperti yang dilakukan komputer, namun
diasumsikan bahwa sistem pemrosesan penghitungan untuk mendapatkan probabilitas
respons adalah mirip dengan proses yang dihasilkan oleh komputer yang diprogram
untuk mensimulasi model itu.
Dengan analisis ini, sudah jelas
bahwa Estes telah menyentuh psikologi kognitif.
Pandangan Estes tentang Perang Penguatan.
Estes percaya bahwa penguatan akan
mencegah terjadinya hilangnya asosiasi dengan cara mempertahankan asosiasi
antara stimuli tertentu dengan respon tertentu.
Menurut Estes, organisme bukan hanya belajar hubungan S-R
tetapi juga hubungan R-O (response-outcome). Yakni, organisme belajar, dan
mengingat, respons mana yang akan menimbulkan konsekuensi tertentu. Organisme
hanya belajar apa yang menimbulkan konsekuensi, dan informasi ini menentukan
respons mana yang akan dipilih.
Dalam analisisnya dalam penguatan, Estes membuat perbedaan
penting antara belajar dan performa. Meskipun pendapat Estes menekankan
mekanisme kognitif (memori) dan ia memandang penguatan dan hukuman sebagai
penyedia informasi bagi organisme, pandangannya ini masih menganggap manusia
itu seperti mesin. Hulse, Egeth, dan Deese meringkas pendapat Estes tentang
bagaimana penguatan dan hukuman secara otomatis memandu perilaku :
Fungsi penguatan dalam teori Estes
bukan unuk menguatkan secara langsung formasi asosiasi baru; kontiguitas sederhana
sudah cukup. Dalam hal ini dia sejalan dengan Guthrie. Kejadian penguatan
memiliki efek performa, yang dalam term Guthrie berarti tendensi urutan
tertentu dari respons yang telah dipelajari untuk mendapatkan beberapa capaian
final. Fungsi penguatan memiliki adalah menyediakan umpan balik (feedback)
bedasarkan antisipasi.... terhadap imbalan atau hukuman yangakan datang yang
beriringan dengan stimuli yang ada (atau yang diambil dari memori) dalam
situasi belajar sehingga ia memandu
munculnya perilaku dalam cara tertentu. Dengan kata lain, teori Estes
menekankan model sibernetika untuk pengaruhi penguatan terhadap performa:
perilaku dipandu ke tujuan dan menjauhi situasi aversif melalui umpan balik
positif atau negatif dari kejadian penguatan.
Estes, Tolman, dan Bandura percaya bahwa kita mempelajari
apa-apa yang kita lihat dan belajar bagaimana informasi ini diterjemahkan ke
dalam perilaku bedasarkan tujuan organisme.
E.
Belajar Untuk Belajar
Kontroversi mengenai pendapat belajar inkremental versus all-or-none
(terkadang disebut continuity-noncontinuity controversy) masih ada. Contoh yang
tampaknya memuaskan bagi kedua pendapat yang berseteru itu adalah pendapat awal
Estes bahwa, dengan lingkungan belajar yang kompleks, proses belajar
berlangsung dengan cara sekaligus atau tidak sama sekali (all-or-none), hanya
saja ia berjalan sedikit demi sedikit pada satu waktu. Sesungguhnya, secara
logika, teori belajar inkremental juga dapat direduksi menjadi teori
all-or-none.
F.
Status Terkini Model Matematika untuk
Belajar
Pendekatan Estes sesugguhnya sering disebut sebagai model
matematika untuk belajar sebab dia berusaha menunjukkan bagaimana proses
belajar dapat dideskripsikan dalam term rumus matematika. Karenanya, ketika ada
kesempatan untuk menggunakan matematika dengan cara baru untuk ilmu psikologi,
model matematika disambut denga antusias dan optimis. Belakangan ini ada banyak
rumus matematika yang bermacam-macam untuk mendiskripsikan fenomena belajar
yang berbeda-beda. Model matematika memang belum mengalami sintesis yang
berarti; namun ia menjadi ciri dari pendekatan baru untuk bidang ini.
G.
Evaluasi Teori Estes
Kontribusi
Shepard (1992) melihat Estes sebagai tokoh utama yang
mempengaruhi perubahan arah teori belajar, yang menggerakkannya di bidang yang
berorientasi lebih kognitif yang dicirikan oleh “paparan formal yang elegan dan
ketetapan konseptual. yang dipadukan
dengan dasar yang kukuh dalam observasi. Apabila kita membandingkan matematika
SST dengan rumus Hull, kita melihat bahwa pendekatan Estes cukup sederhana,
hanya menggunakan dua faktor yang mengombinasikan prinsip-prinsip teori
probabilitas yang logis. Seperti Guthrie, teori belajarnya hanya membutuhkan
kontiguitas dan, seperti Guthrie lagi, dia mengemukakan intervensi sebagai
penyebab pelenyapan dan lupa. Tetapi, dalam SST, logika probabilitas dan
sampling-lah yang menimbulkan prediksi teori ini, termasuk kurva belajar atau
kurva pelenyapan.
Kritik
Ada sejumlah kritik yang ditujukan ke teori Estes. Pertama,
dan yang paling sering terlihat eleh mahasisa teori belajar, adalah berkenaan
dengan cakupan teori yang amat terbatas. Kedua, shepard mengamati bahwa estes dan
rekan-rekannya menyusun abstraksi matematika dalam teori dalam kondisi
eksprimental yang terbatas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Estes memandang belajar bukan hanya pengkondisian
atas banyak hubungan stimulus-respon, tetapi terdapat hubungan antara response-outcome yang
mana kemudian Estes membagi respon yang ada ke dalam dua kategori, yaitu respon
yang menghasilkan hasil tertentu dan respon yang tidak menghasilkan.
B. Saran
1. Bagi dosen pengampu
mata kuliah seminar pendidikan matematika diharapkan dapat membantu
dalam proses belajar mengajar di kelas dengan menerangkan dan menjelaskan
materi yang menyangkut tentang teori belajar menurut Estes.
2. Bagi mahasiswa pendidikan
matematika diharapkan makalah ini dapat memberikan pengetahuan terutama tentang
teori belajar.