Selasa, 04 Juni 2013

Air Terjun Tajun

Begitulah kami menyebutnya, karena letak air terjun tersebut berada di gunung tajun dan masih berada di jajaran pegunungan meratus. tepatnya berada di desa sungai durian, hulu sungai selatan, kalimantan selatan.
jaraknya dari rumah aku di tabat padang, hulu sungai tengah. bisa ditempuh sekitar 15 menit dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit.
pemandangan dekat air terjun tersebut begitu indah, apalagi kalau kita kepuncak gunung tajun tersebut, maka kita akan melihat sebagian dari kota barabai dan kandangan.






Kamis, 16 Mei 2013

Obyek Wisata Yang Ada Di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah





Kabupaten HULU SUNGAI TENGAH dengan ibukota Barabai memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.
WISATA ALAM 
Pegunungan Meratus
Kawasan Hutan Lindung terdiri dari dua lokasi : Kawasan Hutan Lindung Meratus di Kecamatan Batang Alai Timur seluas 43.782 Ha.
Hutan pegunungan Meratus

Selain itu juga terdapat kawasan hutan lindung lainnya di sekitar Gunung Titi kecamatan Limpasu, dipenuhi dengan beragam flora dan fauna (biodiversity) diantara banyak terdapat pohon meranti yang berdiameter lebih dari 100 cm. Wisata Pegunungan Meratus menawarkan kondisi hutan alam yang masih perawan dan budaya masyarakat dayak Meratus.

Pagat Batu Benawa
Obyek Wisata Pagat terletak di Kecamatan Batu Benawa, berjarak sekitar 7 km dari kota Barabai.
Sungai Pagat

Obyek wisata Pagat Batu Benawa memiliki panorama alam yang indah. Alamnya yang indah, udara yang sejuk, bukit dan sungai yang jernih dan alamnya yang damai membuat lokasi wisata ini banyak dikunjungi wisatawan.
Panorama pagi di sungai Pagat

Selain itu terdapat sumber air jernih dari dalam Goa yang berada dikaki bukit Batu Bini. Bukit ini menurut legenda merupakan pecahan dari kapal milik Raden Pengantin si anak durhaka. Untuk menyeberangi sungai menuju bukit, pengunjung dapat membergunakan rakit (lanting) atau jembatan gantung. Untuk memudahkan pengunjung mencapai puncak bukit telah dibangun tangga kayu. Dari puncak bukit ini pengunjung dapat melihat pemandangan kota Barabai dan sekitarnya. Obyek Wisata Pagat dilengkapi pula dengan berbagai fasilitas seperti mushala, taman bermain anak, panggung hiburan, gazebo, toko souvenir, warung, toilet dan ruang ganti pakaian. Sebuah aula dengan kapasitas 150 orang masih dalam tahap penyelesaian. Aula ini diharapkan dapat menjadi tempat berbagai acara pertemuan sambil menikmati panorama alam di obyek wisata Pagat Batu Benawa.

Lok Laga
Obyek wisata ini berada di kampung Mu'ui, Desa Sei Harang, Kecamatan Haruyan dan berjarak ±21 km dari kota Barabai, kab. HST

 
 Lok Laga Ria adalah obyek wisata air terjun yang dikelilingi hutan. Sungainya banyak memiliki jeram.

Dalam kawasan obyek wisata Loklaga melintas aliran sungai dengan air yang jernih dan terdapat riam-riam kecil sehingga menjadikan obyek wisata Loklaga menjadi tempat pemandian alam yang ideal. Anak-anak dapat belajar berenang pada tempat-tempat yang dangkal atau pada arus yang tidak terlalu deras.




Pemandian Air Panas Hantakan
Obyek Wisata Air Panas Hantakan berjarak 14 km dari kota Barabai.
Jalan menuju kolam pemandian air panas Hantakan

Untuk kegiatan wisata alam ada obyek wisata air panas di kaki bukit yang hijau dimana terdapat sumber air panas yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Terdapat beberapa kolam air panas yang dipergunakan untuk mandi dan berendam. Kandungan belerang yang yang terdapat dalam air panas ini dianggap dapat menyembukan penyakit kulit.
Kolam air panas ini dianggap dapat menyembukan penyakit kulit

Bersebelahan dengan kolam air panas terdapat kolam air (biasa) yang dapat dipergunakan anak-anak untuk berenang.
Obyek wisata ini ramai dikunjungi orang pada saat hari libur atau hari besar, baik pengunjung yang berasal dari dalam daerah maupun luar daerah.
Di sini terdapat pula kolam ikan dan kolam pancing yang selalu ramai di kunjungi masyarakat setempat atau luar daerah.
Situasi pemancingan di Hantakan

Beberapa perkumpulan penghobi memancing sering mengadakan lomba pancing di kolam ini.

Goa Berangin (Nateh)
Kawasan wisata Nateh di Kecamatan Batang Alai Timur, sekitar 15 km dari Kota Barabai memiliki panorama alam yang indah. Di sini bertebaran bukit-bukit batu raksasa yang kaya dengan pesona goa dan sungai berair jernih.
GOA Berangin bagi orang Barabai tentu saja tak asing lagi. Apalagi goa ini terkenal gara-gara kemisteriusan yang hingga kini masih menyimpan tanda tanya besar.
Goa Berangin yang terletak di Pegunungan Meratus tepatnya di Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), sudah sejak ribuan tahun silam berada di perut pegunungan Meratus.
Untuk mencapai mulut goa ini kita harus meniti puluhan anak tangga atau jika dihitung-hitung sekitar 20 meter. Ketika berada di mulut goa pasti pengunjung terperangah ketika merasakan kenikmatan angin segar dari dalam perut pegunungan Meratus.
Disebut-sebut namanya sebagai Goa Berangin lantaran hembusan hawa sejuk dan dingin baknya seperti Air Conditioner (AC) yang keluar dari mulut maupun lobang goa tersebut.
Hampir tak mengenal waktu, pagi, siang dan malam hembusan angin segar selalu dirasakan pengunjung.
Keanehan goa ini konon panjangnya ratusan kilometer dan memiliki tembusan-tembusan ke pegunungan-pegunungan Meratus lainnya.
Malah di dalam goa hawa yang dirasakan sebaliknya yakni tidak lagi sesejuk ketika kita berada di depan persis mulut goa, tetapi justru hawa hangat.
Goa Berangin sendiri sering dijadikan oleh warga sekitar sebagai tempat bersantai maupun rekreasi. Tak jarang, obyek wisata ini turut pula dijadikan tempat bagi pasangan muda-mudi untuk bercinta dan bermesraan.
Konon ceritanya, bagi pasangan pria dan wanita, justru hubungan mereka putus alias kandas di tengah jalan sebelum memasuki ke masa perkawinan, apabila terlalu sering menghabiskan waktu di "Goa Berangin".
Bahkan, kabar tentang harta karun yang tersimpan dalam goa tersebut, tak ayal membuat warga penasaran untuk menggalinya.
Harta karun dimaksud rupanya, disebutkan dengan banyaknya terdapat sarang-sarang burung Walet. Namun, dari cerita yang beredar di masyarakat, tak jarang sebagian warga yang sengaja ingin mengambil sarang burung tersebut, selalu gagal, karena ditutupi oleh makhluk-makhluk halus yang berdiam di Goa Berangin.
Bahkan, dari cerita-cerita banyak orang, banyak warga yang tersesat di dalam goa tersebut dan hingga kini tidak diketahui lagi nasibnya.
Keangkeran Goa Berangin konon ceritanya ditambah lagi dengan keberadaan ular besar bernama ‘Ular Babat’ yang panjangnya sekitar 1,5 meter dan besarnya hampir sebatang paha orang dewasa.
Sayangnya, keberadaan Goa Berangin kini sudah banyak dijamah oleh tangan manusia. Di sana-sini tampak terlihat coretan-coretan tangan manusia mempergunakan semprotan warna yang sengaja memperjelek pemandangan di sekitar goa.

Goa Liang Hadangan
Goa Liang Hadangan memiliki stalagnit dan stalagmit dengan panorama alam yang sangat mengesankan dan lokasinya sekitar 10 km dari Kota Barabai yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Gunung Batu Benawa
Gunung Batu Benawa merupakan lokasi perkemahan yang digemari para pecinta alam, letaknya sekitar 9 km dari Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
WISATA RELIGIUS

Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih
Wisata religius lainnya yang dapat dilakukan adalah mengunjungi Pondok Pesantren Ibnul amin Pamangkih yang mendidik ribuan calon ulama muda dan pemimpin umat masa depan.
Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih didirikan pada tanggal 11 Mei 1958 M / 22 Syawal 1378 H. Pendirinya adalah seorang ulama dari masyarakat Pamangkih yang bernama KH. Mahfuz Amin bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli bin Tuan Guru H. Muhammad Amin.
Atas wasiat almarhum orang tuanya yaitu Tuan Guru H. M. Ramli yang mewasiatkan untuk lebih memajukan pelajaranpelajaran agama, juga atas nasehat dan petunjuk dari seorang gurunya KH. Abu Bakar Tambun, agar beliau mendirikan pondok pesantren. Maka pada tanggal 23 Oktober 1958 (8 Shafar 1378 H) didirikanlah sebuah pondok pesantren yang waktu itu dikenal dengan nama Pondok Hulu Kubur.
Nama Pondok Hulu Kubur tidak tertulis dipapan nama,hanya mendapat sebutan dilidah orang umum. Nama Pondok Hulu Kubur tidak lama dipakai sebagai nama terhadap pesantren yang baru lahir ini, karena pendirinya yaitu KH. Mahfuz Amin telah mendapatkan sebuah nama pilihan yaitu “Ibnul Amin”. Nama Ibnul Amin tersebut dipilih sebagai penghormatan kepada almarhum kakek KH. Mahfuz Amin sendiri. Karena KH. Mahfuz Amin sebagai pendiri dan pendidik di pondok pesantren ini telah mendapatkan ilmu dari ayahnya yaitu Tuan Guru H. M. Ramli, sedangkan ayahnya juga belajar dari orang tuanya yaitu Tuan Guru H. M. Amin. Oleh karena itulah pesantren diberi nama Ibnul Amin yaitu sebagai peringatan terhadap kakeknya yang telah berjasa kepada orang tuanya dan KH. Mahfuz Amin sendiri.

Makam keramat Wali Katum
M. Ramli atau yang lebih dikenal denga sebutan Walikatum (tersembunyi). Wali Katum dimasa kecilnya beliau lebih dikenal dengan panggilan Artum. Mengunjungi makam keramat Wali Katum juga menarik karena selalu mendapat kunjungan ziarah dari masyarakat Kalimantan Selatan dan juga wisatawan.

Masjid Al-A'la dan Masjid Keramat
Mesjid Al-A'la di desa Jatuh, Kecamatan Pandawan merupakan mesjid tertua di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Masjid ini merupakan cikal bakal berkibarnya bendera dakwah syiar agama Islam. Masih di Kecamatan ini terdapat pula masjid tua yang disebut Masjid Keramat dan keunggulan dari tempat ibadah ini konon memberikan rasa khusyu.

Selasa, 30 April 2013

ISLAM-O-LOGI?

Hari itu, saya sedang mengawas Ujian Sekolah (US) kelas 9 untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Nampaknya murid-murid saya berpikir keras untuk bisa menjawab soal-soal tersebut.

Lalu, saya coba perhatikan soal yang saya pegang. Memang banyak sekali soal yang membutuhkan hapalan untuk bisa menjawabnya.

Saya lalu bertanya.
"Pelajaran Agama ini susah dihapal ya?" Tanya saya pada mereka.

"Susah banget, Pak." Jawab sebagian besar siswa.

Saya diam sebentar. Tersenyum pada mereka. Lalu, tanya jawab singkat itu saya tutup dengan kalimat,

"Iya ya, benar. Pelajaran agama memang sulit untuk dihapal."

Saya diam sejenak,lalu melanjutkan.

"Sebab, agama memang bukan untuk dihapal, agama untuk diamalkan."

Saya kembali diam. Merenung.

***

Sepertinya ada yang salah dalam sistem pendidikan di dunia Islam, terutama di Indonesia.

Siswa dididik untuk menjadi penghapal berbagai teori, bukan untuk menjadi pengamal.

Terlebih lagi dalam pendidikan agama Islam, ia hanya menjadi sebuah mata pelajaran, sejajar dengan pelajaran Sejarah atau Seni Budaya.

***

Namanya juga mata pelajaran, maka materinya dipelajari bukan untuk diamalkan, melainkan agar bisa menjawab soal saat ulangan. Ujung-ujungnya hanya untuk nilai yang tertulis di rapornya.

***

Bayangkan, siswa diajarkan untuk menghapal istilah ananiyyah, qana'ah, tawadhu, khusyuk, tauhid uluhiyyah, tauhid 'ubudiyyah, dan lainnya. Tugas mereka hanya menghapalnya. Bukan mengamalkannya.

***

Penilaian keberhasilan siswa hanya sebatas bagaimana dia menjawab soal ujian. Lagi-lagi, jika ia hapal, ia akan menjawabnya dengan mudah. Tidak peduli, ia mengamalkannya atau tidak.

***

Tidak perlu heran, jika ada seorang siswi yang telah hilang keperawanannya, bisa mendapatkan nilai sembilan untuk pelajaran agama di rapornya.

Tidak perlu heran, yang penting dia bisa menjawab soal ujian dengan benar. Soal pergaulannya yang rusak, itu tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembelajaran.

***

ISLAM-O-LOGI?

Ini tidak benar. Islam bukan untuk dihapal. Islam bukan teori sebagaimana teorema phytagoras. Islam adalah sebuah diin yang diturunkan untuk diamalkan. Islam hadir untuk mengatur hidup manusia dengan dirinya, dengan Tuhan, dan dengan sesamanya.

***

Islam bukan mata pelajaran, melainkan metode kehidupan. Maka semestinya ia praktis. Maka semestinya ia diajarkan agar mudah diamalkan. Bukan tentang istilah-istilah dan definisi.

***

Kita tidak perlu mengajarkan siswa berdebat tentang apa arti tauhid uluhiyah dan ubudiyah. Yang perlu kita lakukan adalah mendidik mereka untuk menuhankan Allah secara total, mentaatinya dalam keadaan ringan atau berat, tidak menyekutukanNya, dan menjadikanNya sebagai pengatur kehidupan kita.

***

Jangan biarkan mereka berdebat panjang tentang apa saja yang termasuk qanaah, mana yang termasuk sabar, mana yang termasuk tawakkal.

Namun. Ajarkan mereka untuk qanaah, tawakkal dan sabar. Ajarkan mereka untuk merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah. Ajarkan mereka berserah diri kepada Allah dalam segala kesempatan. Ajarkan mereka teguh dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Islam bukan untuk dihapal, Islam untuk diamalkan.

***

Cegah mereka dari perbuatan zina dan kemaksiatan lainnya. Bukan sekedar mencari hukum bacaan tajwid dalam ayat al-Quran tentang zina tersebut.

***

Ajarkan mereka untuk menjadikan hadits Nabi sebagai panduan hidup, bukan sekedar untuk menghapal perbedaan hadits fi'li, qawli, taqriri dan lainnya.

***

Kesimpulannya,
Bimbing mereka menjadi Muslim sejati, bukan sekedar menghapal materi untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi.

Sebab, Islam bukan mata pelajaran.
Sebab, Islam adalah metode kehidupan.

{dimulai 110313 10:40, selesai 110313 21:15}

ABAY ABU HAMZAH

Selasa, 26 Maret 2013

Teori Belajar William Kaye Estes


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Era modern saat ini, khususnya di Indonesia banyak terdapat berbagai macam gaya pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dari berbagai macam gaya tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu agar para mahasiswa lebih aktif dan terjadi perubahan perilaku akibat proses belajar tersebut, diantaranya dari hal tidak bisa menjadi bisa, hal sederhana menjadi kompleks.
Para pendidik atau pengajar pada saat ini dapat melakukan tugas dengan baik karena pendidik mengetahui tentang teori-teori terdahulu yang menjadi sebuah acuan bagaimana pendekatan dan metode yang digunakan pada peserta didik untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dari proses belajar tersebut, yaitu pesan yang disampaikan oleh pendidik dapat diterima dan dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik.
Salah satu tren era modern saat ini dalam teori belajar adalah menjauhi teori yang luas dan komprehensif dan menuju ke sistem yang lebih kecil. Para periset memfokuskan diri pada suatu area yang mereka minati dan mengeksplorasinya secara menyeluruh. Keluasaan akan mengorbankan kedalaman. Contoh dari tren ini apa yang disebut sebagai teoretisi belajar statistik, yang berusaha membangun minisistem yang kukuh untuk meneliti sederetan fenomena belajar. Salah satu yang paling awal adalah teori menurut Estes pada tahun 1950.
Dari penjelasan di atas, maka dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang teori yang dikemukakan oleh William Kaye Estes yang lebih dikenal dengan sebutan teori Estes.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah:
1.      Siapa William Kaye Estes?
2.      Teori apa yang dikemukakan oleh Estes?
3.      Bagaimana teori yang dikemukakan oleh Estes?
C.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui apa saja dan bagaimana implementasi dari teori yang dikemukan oleh Estes.
D.     Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu:
1.      Bagi Mahasiswa
Dapat mengetahui pengetahuan tentang teori belajar menurut Estes dan manfaat yang dapat diterapkan dalam proses belajar saat ini.
2.      Bagi Dosen Pengampu Mata Kuliah
Diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan penulis, mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan tentang teori belajar menurut Estes dan manfaat yang akan ditimbulkan dari teori tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    William Kaye Estes
William Kaye Estes lahir pada tahun 1919, mengawali karier profesionalnya di University Of Indiana. Estes kemudian pindah ke Stanford University dan selanjutnya ke Rockfeller University dan mengakhiri kariernya di Havard di mana dia mendapat gelar profesor emeritus . Pada 1997 Estes dianugerahi Medal of Science yang merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh National Sience Foundation. Penghargaan ini diberikan berkat jasanya bagi teori kognisi dan belajar fundamental yang mengubah bidang psikologi eksperimental dan memicu perkembangan ilmu kognitif kuantitatif. Metode modeling kuantitatif dan penekanannya pada ketepatan dan ketelitian telah menjadi standar bagi ilmu psikologi modern.
William K. Estes belajar bersama Skinner ketika Skinner berada di Universitas Minnesota dan di sana pula ia menerima gelar Ph. D-nya di bidang psikologi pada tahun 1943. Karya bersama Estes dengan Skinner mengenai efek hukuman menghasilkan kontribusi penting bagi pemikir Skinner dalam topik tersebut. Bagaimanapun juga, minatnya untuk membangun model-model pembelajaran matematis telah memisahkan arah yang ditempuhnya dari bisa antiteoretis Skinner. Selain itu, asumsi-asumsi dalam teori Estes nampak lebih memperlihatkan pengaruh Guthrie yang tidak pernah menjadi rekan studinya,karena pengaruh Skinner.
B.     Konsep Teoretis Utama
Ada beberapa asumsi yang dibuat oleh Estes yang dijabarkan sebagai berikut:
Asumsi 1. Situasi belajar terdiri dari banyak elemen stimulus dalam jumlah tertentu. Elemen-elemen ini terdiri dari banyak hal yang dapat dialami pembelajar pada awal percobaan belajar. Stimuli-stimuli itu bisa mencakup kejadian eksperimental seperti cahaya, suara berisik, materi verbal yang disajikan dalam drum memori, palang dalam kotak Skinner, jalur T. Stimuli itu juga bisa stimuli yang dapat diubah atau stimuli sementara seperti perilaku eksperimenter, suhu, suara tambahan di dalam dan di luar ruang dan kondisi di dalam diri subjek eksperimen seperti keletihan atau sakit kepala. Semua elemen stimulus ini secara kolektif disimbolkan sebagai S. Sekali lagi, S adalah jumlah total dari stimuli yang mengiringi satu percobaan dalam situasi belajar.
Asumsi 2. Semua respon yang diberikan dalam situasi eksperimen dapat digolongkan menjadi dua kategori. Jika responnya adalah yang dicari oleh eksperimenter (seperti keluarnya air liur, mata berkedip, menekan palang, berbelok ke kanan di jalur T, atau melafalkan suku kata yang tak bermakna dengan benar), ini dinamakan respon A1. Jika responnya adalah bukan yang dicari oleh eksperimenter diberi label A2. Jadi, Estes membagi semua respon yang mungkin muncul dalam eksperimen belajar menjadi dua kelompok, (A1) respon yang benar atau (A2) respon yang lainnya.
Asumsi 3. Semua elemen di S dilekatkan dengan A1 atau A2. Ini adalah situasi all or nothing. Semua unsur stimulus dalam S adalah dikondisikan ke respon yang diinginkan atau benar (A1) atau ke respon yang tidak relevan atau salah (A2).Pada awal eksperimen, hampir semua stimuli akan dikondisikan ke A2 akan menimbulkan respon A2. Respon yang benar terjadi hanya setelah respon dihubungkan dengan stimuli dalam konteks eksperimental.
Asumsi 4. Pembelajar terbatas kemampuannya dalam mengalami S. Pembelajar mengalami hanya sebagian dari stimuli yang tersedia pada setiap percobaan belajar dan besarnya sampel diasumsikan tetap konstan di sepanjang eksperimen. Proporsi konstan dari S yang dialami pada awal setiap percobaan belajar dilambangkan dengan ÆŸ (theta). Sesudah setiap percobaan, elemen ÆŸ dikembalikan ke S. Jadi teori Estes mengamsusikan sampling dengan penggantian (sampling with replacement). Elemen-elemen yang dijadikan sampel pada satu percobaan mungkin akan dijadikan sampel lagi pada percobaan selanjutnya.
.Asumsi 5. Percobaan belajar berakhir ketika respon terjadi, jika respon A1menghentikan percobaan elemen-elemen stimulus dikondisikan dalam respon A1.
Asumsi 6. Karena Elemen di (Ó©dikembalikan ke S pada akhir percobaan, dan arena tetha (Ó©yang dijadikan sampel pada awal percobaan belajar pada dasarnya adalah acak, proporsi elemen yang dikondisikan ke A1 dalam S akan tercermin dalam elemen dalam tetha (Ó©pada awal setiap percobaan baru. Berdasarkan asumsi-asumsi diatas, maka Estes mengemukakan empat konsep teoretis utama , yaitu:
1.    Generalisasi
Generalisasi dari situasi belajar awal ke situasi belajar lainnya dapat dengan mudah dijelaskan dengan teori sampling stimulus. Transfer terjadi sepanjang dua situasi memiliki elemen stimulus yang sama. Jika banyak dari elemen yang sebelumnya dikondisikan ke respon A1 ada didalam situasi belajar yang baru, probabilitas respon A1 akan muncul ke dalam situasi baru itu akan cukup tinggi.
2.    Pelenyapan
Estes menjelaskan problem pelenyapan dengan cara yang pada dasarnya sama dengan yang dilakukan Guthrie karena dalam pelenyapan satu percobaan biasanya diakhiri setelah subjek melakukan sesuatu selain A1, elemen stimulus yang sebelumnya dikondisikan ke A1 pelan-pelan akan kembali lagi ke A2. Hukum untuk pelenyapan adalah sama. Apa yang dinamakan pelenyapan muncul setiap kali kondisi disusun sedemikian rupa sehingga elemen stimulus digeser dari respon A1 ke respon A2.
3.    Pemulihan Spontan
Merupakan munculnya kembali respon yang dikondisikan setelah respon itu mengalami pelenyapan.dengan kata lain pemulihan spontan dijelaskan dengan mengasumsikan bahwa proses pelenyapan (pergeseran elemen dari A1 ke A2) pada awalnya tidak pernah komplet.
4.    Pencocokan Probabilitas
 Eksperimen pencocokan probabilitas tradisional adalah menggunakan sinyal cahaya yang diikuti satu atau dua cahaya lain. Ketika sinyal menyala, subjek percobaan menduga cahaya mana dari dua cahaya lain yang akan muncul. Misal, cahaya kanan muncul 80% dari waktu, subjek akan memprediksi bahwa cahaya itu akan muncul 80% dari waktu percobaan.

C.    Model belajar markov menurut estes
Semua teori belajar statistikal bersifat probabilistik, yakni variabel bebas yang mereka studi adalah probabilitas respon. Tetapi ada perbedaan opini mengenai apa sifat dari belajar yang ditunjukkan oleh perubahan probabilitas  respon ini kepada kita. Perdebatan klasiknya adalah apakah belajar itu gradual atau langsung lengkap dalam satu kali percobaan. Thorndike berpendapat bahwa belajar adalah bertahap dan bertambah sedikit demi sedikit dari satu percobaan kepercobaan selanjutnya. Hull dan Skinner sepakat dengan Thorndike. Guithrie berpendapat lain dengan mengatakan bahwa belajar terjadi dalam cara all-0r-none (secara sekaligus atau tidak sama sekali) , namun terlihat gradual karena kompleknya tugas yang mesti dipelajari.
Teori sampling stimulus estes menerima sudut pandang inkremental (gradual) maupun all-or-none tentang proses belajar.elemen yang dijadikan sampel ini dikondisikan secara all-or-none ke respon apa saja yang menghentikan percobaan itu .aan tetapi karena hanya sebagian kecil dari proporsi elemen yang dikondisiskan pada satu percobaan tertentu , proses belajar berlangsung sedikit demi sedikit, dan karenanya maka tercipta kurva akselerasi belajar negatif. Sekali lagi, pendapat estes adalah bahwa elemen stimulus yang dijadikan sampel pada satu percobaan tertentu dikndisikan denan cara all-or-none; nmun karena hanya sedikit yang dijadikan sampel pada satu percobaan , belajar berlangsung secara inkremental atau gradual. Probabilitas munculnya respon A1 berubah secara gradual dari satu percobaan ke percobaan selanjutnya  dan jika jumlah total elemen stimulus yang ada dalm eksperimen cukup banyak, sifat all-or-none ini tidak dapat dideteksi. Artinya, dengan banyak elemen stimulus yang ada dalam satu eksperimen, maka hanya terjadi  perubahan kecil dalam probabilitas respon dari satu percobaan belajar kepercobaan belajar selanjutnya, dan ketika probabilitas di plot, ia akan tampak inkremental etimbang all-or-none.
Belakangan,Estes mendesain sejumlah studi yang memungkinkan proses belajar diamati secara lebih detail ( misalnya, Estes,1960, 1964a;Estes, Hopkins, & Crothers,1960). Studi studi ini menunjukkan bahwa ketika jumlah elemen yang dijadikan sampel sangat sedikit, belajar jelas berlangsung all-or-none; dalam kenyataannya, dapat dikatakan bahwa belajar terjadi secara lengkap dalam stu percobaan atau tidak terjadi sama sekali.—tidak ada posisi ditengah-tengahnya.perubahn cepat dari keadaan belum belajar ke keadaan telah belajar ini dikatakan berhubungan dengan Markov process( proses Markov), yang dkarakterisasikan oleh perubahan mendadak dalam probabilitas respons ketimbang perubahan pelan dan bertahap dari satu percobaan ke percobaan selanjutnya.

D.    Estes dn psikologi kognitif
Meskipun Estes seorang teoritisi kontiguitas, namun ditahun tahun belakangan ini dia lebih menekankan pada mekanisme kognitif dalam analisisnya terhadap belajar(lihat, misalnya, Estes 1969a,1969b, 1971, 1972, 1973, 1978). Seperti yang telah kita lihat, analisis awalnya mengikuti pendapat guthrie dengan mengasumsikan bahwa apapun stimuli yang ada pada saat terminasi suatu percobaan belajar akan diasosiasikan dengan respon yang menghentikan itu. Baik Guthrie maupun estes memandang belajar sebagai asosiasikejadian yang terjadi bersamaan secara mekanis dan otomatis. Pada intinya, organisme, termasuk manusia, dianggap sebagai mesin yang dapat merasakan , mencatat, dan merespon walaupun masih bersifat mekanistis, analisis Estes yang lebih belakangan lebih kompleks karena ia mempertimbangkan  pula pengaruh dari peristiwa kognitif.
Pentingnya memori. Pada awalnya Estes  berpendapat bahwa stimuli dan respon menjadi di asosiasikan oleh kontiguitas, dan setelah diasosiasikan, ketika stimuli terjadi, mereka akan mengahasilkan respon yang diasosiasikan pada stimuli itu. Belakangan, Estes menambahkan elemen ketiga ke dalam analisisnya,yakni memori atau ingatan ( lihat, misalnya, Estes 1969a, 1972, 1973, 1978). Dalam analisis Estes belakangan ini, stimuli tak langsung menimbulkan respon, tetapi ia membangkitkan memori dari pengalaman sebelumnya dan interaksi dari stimuli saat itu dengan memori tentang pengalaman sebelumnya itulah yang menghasilkan prilaku.
Memori juga berperan penting dalam analisis Estes terhadap operasi kognitif tingkat tinggi seperti yang melibatkan bahasa. Dengan mengikuti tradisi emperis inggris, estes mengasumsikan  bahwa memori- memori sederhana akan dikombinasikan untuk membentuk memori kompleks.
Model array kognitif: klasifikasi dan kategorisasi
Estes memandang  teori sampling  stimulus (SST) sebagai perluasan matematis dari teori transfer elemen identik Thorndike. Yakni teori itu dikembangkan untuk membuat prideksi yang tepat tentang transfer training dari situasi satu ke situasi lain, berdasarkan elemen elemen stimulus yang sama untuk keduanya.dalam  karya yang lebih baru, Estes (1994) menjelaskan problem yang pertama kali dikaji oleh Medin dan Shaffer(1978) dan meneruskan pengembangan pendekatan elemen identik Thorndike. tetapi, kali ini modelnya di aplikasikan secara spesifik ke perilaku mengklasifikasi dan mengkategorisasi. Meneliti suatu makhluk, mengamati bahwa ia berbulu, bisa terbang, dan bertelur dan kemudian menyebutnya sebagai ‘burung’ adalah contoh dari jenis perilaku ini.
Dalam model klasifikasi kognitif Estes orang di asumsikan akan meneliti stimulus kompleks dan memerhatikan ( atau mengambil sampel) ciri- cirinya yang menonjol atau penting . seperti dalam SST, ciri ciri stimulus itu, bersama dengan informasi tentang kategori atau keanggotaan kelasnya, dipelajari secara all-or-none, dalam satu kali percobaan.pada poin inilah pendekatan kognitif Estes, yang dinamakan array model ( model array), berbeda dengan SST. Dalam kasus model array , karakteristik stimulus dan designasi  kategori disimpan dalam memori sebagai suatu perangkat-suatu array-yang menyimpan ciri-ciri atau atribut penting dan siap dipakai untuk membandingkan atribut itu dengan atribut stimuli lain.ketika stimulus baru ditemui, ciri menonjol dari stimulus baru ini akan dibandingkan dengan stimulus yang telah dipelajari dan disimpan sebagai seperangkat ciri. Klasifikasi stimulus baru itu kemudian akan didasarkan pada kesamaan atributnya dengan atribut stimulus yang tersimpan dalam array memori.ada perbedaan tradisional antara SSt dan model array yang patut dikemukakan. Fokus SST adalah asosiasi stimulus-respon yang dibentuk di masa lalu dan pada cara asosiasi ini diakumulasikan. Fokus medel array adalah pada klasifikasi kejadian yang ditemui dimasa sekarang atau yang akan ditemui di masa depan.
SST Mengasumsikan Hubungan Stimulus  Aditif.  Meskipun baik itu SST maupun model array mereflesikan teori transfer elemen identik Thorndike, keduanya merefleksikannya dengan cara berbeda.
Satu problem signifikan dalam SST adalah bahwa dalam situasi yang lebih kompleks, teori ini tidak dapat menjelaskan efek detrimental yang muncul ketika pembelajar manusia dan nonmanusia diuji dalam konteks, atau dengan stimuli yang jauh berbeda dari konteks yang ada saat training. Dalam bukunya yang berjudul classification and Cognition, Estes (1994) menunjukkan bahwa kelemahan utamanya adalah pada asumsinya mengenai efek stimulus aditif –yakni ide konseptual dan matematis, yang ditunjukkan dalam contoh kita yang menyatakan bahwa elemen-elemen stimulus berpadu dalam cara aditif untuk memunculkan respon yang dipelajari. Sebagai alternatifnya, model array mengasumsikan bahwa elemen kombinasi secar multiplikatif ( multiplicatively) untuk memunculkan respons.

Model Array Mengasumsikan Hubungan Stimulus Multiplikatif. Menurut model array, kita menilai kesamaan stimuli dalam konteks baru yang berhubungan dengan stimuli dalam situasi training dengan membandingkan atribut-atribut dari elemen itu.
Model array dimaksudkan untuk mendiskripsikan dan memprediksi bagaimana orang menilai stimuli untuk dikategorikan dalam kategori spesifik, bukan bagaimana respons yang dikondisikan digeneralisasikan atau ditransfer ke situasi baru, dan kita dapat menggunakan stimuli dari problem generalisasi kita untuk mendemonstrasikan dasar-dasar model array.
v  Item dalam Satu Kategori adalah Sama Satu dengan yang Lain.
Langkah pertama dalam mengembangkan model array untuk problem diatas adalah menentukan item-item didalam kategori. 
v  Item-item Stimulus Mempresentasikan Seluruh Kategori.
Langkah selanjutnya dalam mengaplikasikan model array adalah menentukan sejauh mana stimulus parsial adalah mewakili kategorinya secara kesuluruhan.


  Estes (1994) menyatakan dalam tulisannya bahwa : Pada awal setiap percobaan setelah yang pertama, subjek menghitung kesamaan anatara contoh-contoh yang disajikan ke setiap anggota dari array memori saat ini, menjumlahkan kesamaannya dengan semua anggota yang diasosiasikan dengan masing-masing kategori, menghitung   probabilitas setiap kategori, dan memberikan respons berdasarkan probabilitas ini. Tentu saja, tidak diasumsikan bahwa individu menjalankan perhitungan ini seperti yang dilakukan komputer, namun diasumsikan bahwa sistem pemrosesan penghitungan untuk mendapatkan probabilitas respons adalah mirip dengan proses yang dihasilkan oleh komputer yang diprogram untuk mensimulasi model itu.
Dengan analisis ini, sudah jelas bahwa Estes telah menyentuh psikologi kognitif.
Pandangan Estes tentang Perang Penguatan. Estes percaya bahwa penguatan akan mencegah terjadinya hilangnya asosiasi dengan cara mempertahankan asosiasi antara stimuli tertentu dengan respon tertentu.
Menurut Estes, organisme bukan hanya belajar hubungan S-R tetapi juga hubungan R-O (response-outcome). Yakni, organisme belajar, dan mengingat, respons mana yang akan menimbulkan konsekuensi tertentu. Organisme hanya belajar apa yang menimbulkan konsekuensi, dan informasi ini menentukan respons mana yang akan dipilih.
Dalam analisisnya dalam penguatan, Estes membuat perbedaan penting antara belajar dan performa. Meskipun pendapat Estes menekankan mekanisme kognitif (memori) dan ia memandang penguatan dan hukuman sebagai penyedia informasi bagi organisme, pandangannya ini masih menganggap manusia itu seperti mesin. Hulse, Egeth, dan Deese meringkas pendapat Estes tentang bagaimana penguatan dan hukuman secara otomatis memandu perilaku :
Fungsi penguatan dalam teori Estes bukan unuk menguatkan secara langsung formasi asosiasi baru; kontiguitas sederhana sudah cukup. Dalam hal ini dia sejalan dengan Guthrie. Kejadian penguatan memiliki efek performa, yang dalam term Guthrie berarti tendensi urutan tertentu dari respons yang telah dipelajari untuk mendapatkan beberapa capaian final. Fungsi penguatan memiliki adalah menyediakan umpan balik (feedback) bedasarkan antisipasi.... terhadap imbalan atau hukuman yangakan datang yang beriringan dengan stimuli yang ada (atau yang diambil dari memori) dalam situasi belajar sehingga ia  memandu munculnya perilaku dalam cara tertentu. Dengan kata lain, teori Estes menekankan model sibernetika untuk pengaruhi penguatan terhadap performa: perilaku dipandu ke tujuan dan menjauhi situasi aversif melalui umpan balik positif atau negatif dari kejadian penguatan.
Estes, Tolman, dan Bandura percaya bahwa kita mempelajari apa-apa yang kita lihat dan belajar bagaimana informasi ini diterjemahkan ke dalam perilaku bedasarkan tujuan organisme.


E.     Belajar Untuk Belajar
       
Kontroversi mengenai pendapat belajar inkremental versus all-or-none (terkadang disebut continuity-noncontinuity controversy) masih ada. Contoh yang tampaknya memuaskan bagi kedua pendapat yang berseteru itu adalah pendapat awal Estes bahwa, dengan lingkungan belajar yang kompleks, proses belajar berlangsung dengan cara sekaligus atau tidak sama sekali (all-or-none), hanya saja ia berjalan sedikit demi sedikit pada satu waktu. Sesungguhnya, secara logika, teori belajar inkremental juga dapat direduksi menjadi teori all-or-none.
F.     Status Terkini Model Matematika untuk Belajar

Pendekatan Estes sesugguhnya sering disebut sebagai model matematika untuk belajar sebab dia berusaha menunjukkan bagaimana proses belajar dapat dideskripsikan dalam term rumus matematika. Karenanya, ketika ada kesempatan untuk menggunakan matematika dengan cara baru untuk ilmu psikologi, model matematika disambut denga antusias dan optimis. Belakangan ini ada banyak rumus matematika yang bermacam-macam untuk mendiskripsikan fenomena belajar yang berbeda-beda. Model matematika memang belum mengalami sintesis yang berarti; namun ia menjadi ciri dari pendekatan baru untuk bidang ini.

G.    Evaluasi Teori Estes
Kontribusi
Shepard (1992) melihat Estes sebagai tokoh utama yang mempengaruhi perubahan arah teori belajar, yang menggerakkannya di bidang yang berorientasi lebih kognitif yang dicirikan oleh “paparan formal yang elegan dan ketetapan konseptual.  yang dipadukan dengan dasar yang kukuh dalam observasi. Apabila kita membandingkan matematika SST dengan rumus Hull, kita melihat bahwa pendekatan Estes cukup sederhana, hanya menggunakan dua faktor yang mengombinasikan prinsip-prinsip teori probabilitas yang logis. Seperti Guthrie, teori belajarnya hanya membutuhkan kontiguitas dan, seperti Guthrie lagi, dia mengemukakan intervensi sebagai penyebab pelenyapan dan lupa. Tetapi, dalam SST, logika probabilitas dan sampling-lah yang menimbulkan prediksi teori ini, termasuk kurva belajar atau kurva pelenyapan.
Kritik
Ada sejumlah kritik yang ditujukan ke teori Estes. Pertama, dan yang paling sering terlihat eleh mahasisa teori belajar, adalah berkenaan dengan cakupan teori yang amat terbatas. Kedua, shepard mengamati bahwa estes dan rekan-rekannya menyusun abstraksi matematika dalam teori dalam kondisi eksprimental yang terbatas.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Estes memandang belajar bukan hanya pengkondisian atas banyak hubungan stimulus-respon, tetapi terdapat hubungan antara response-outcome yang mana kemudian Estes membagi respon yang ada ke dalam dua kategori, yaitu respon yang menghasilkan hasil tertentu dan respon yang tidak menghasilkan.
B.     Saran
1.      Bagi dosen pengampu mata kuliah seminar pendidikan matematika diharapkan dapat membantu dalam proses belajar mengajar di kelas dengan menerangkan dan menjelaskan materi yang menyangkut tentang teori belajar menurut Estes.
2.      Bagi mahasiswa pendidikan matematika diharapkan makalah ini dapat memberikan pengetahuan terutama tentang teori belajar.