Selasa, 30 April 2013

ISLAM-O-LOGI?

Hari itu, saya sedang mengawas Ujian Sekolah (US) kelas 9 untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Nampaknya murid-murid saya berpikir keras untuk bisa menjawab soal-soal tersebut.

Lalu, saya coba perhatikan soal yang saya pegang. Memang banyak sekali soal yang membutuhkan hapalan untuk bisa menjawabnya.

Saya lalu bertanya.
"Pelajaran Agama ini susah dihapal ya?" Tanya saya pada mereka.

"Susah banget, Pak." Jawab sebagian besar siswa.

Saya diam sebentar. Tersenyum pada mereka. Lalu, tanya jawab singkat itu saya tutup dengan kalimat,

"Iya ya, benar. Pelajaran agama memang sulit untuk dihapal."

Saya diam sejenak,lalu melanjutkan.

"Sebab, agama memang bukan untuk dihapal, agama untuk diamalkan."

Saya kembali diam. Merenung.

***

Sepertinya ada yang salah dalam sistem pendidikan di dunia Islam, terutama di Indonesia.

Siswa dididik untuk menjadi penghapal berbagai teori, bukan untuk menjadi pengamal.

Terlebih lagi dalam pendidikan agama Islam, ia hanya menjadi sebuah mata pelajaran, sejajar dengan pelajaran Sejarah atau Seni Budaya.

***

Namanya juga mata pelajaran, maka materinya dipelajari bukan untuk diamalkan, melainkan agar bisa menjawab soal saat ulangan. Ujung-ujungnya hanya untuk nilai yang tertulis di rapornya.

***

Bayangkan, siswa diajarkan untuk menghapal istilah ananiyyah, qana'ah, tawadhu, khusyuk, tauhid uluhiyyah, tauhid 'ubudiyyah, dan lainnya. Tugas mereka hanya menghapalnya. Bukan mengamalkannya.

***

Penilaian keberhasilan siswa hanya sebatas bagaimana dia menjawab soal ujian. Lagi-lagi, jika ia hapal, ia akan menjawabnya dengan mudah. Tidak peduli, ia mengamalkannya atau tidak.

***

Tidak perlu heran, jika ada seorang siswi yang telah hilang keperawanannya, bisa mendapatkan nilai sembilan untuk pelajaran agama di rapornya.

Tidak perlu heran, yang penting dia bisa menjawab soal ujian dengan benar. Soal pergaulannya yang rusak, itu tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembelajaran.

***

ISLAM-O-LOGI?

Ini tidak benar. Islam bukan untuk dihapal. Islam bukan teori sebagaimana teorema phytagoras. Islam adalah sebuah diin yang diturunkan untuk diamalkan. Islam hadir untuk mengatur hidup manusia dengan dirinya, dengan Tuhan, dan dengan sesamanya.

***

Islam bukan mata pelajaran, melainkan metode kehidupan. Maka semestinya ia praktis. Maka semestinya ia diajarkan agar mudah diamalkan. Bukan tentang istilah-istilah dan definisi.

***

Kita tidak perlu mengajarkan siswa berdebat tentang apa arti tauhid uluhiyah dan ubudiyah. Yang perlu kita lakukan adalah mendidik mereka untuk menuhankan Allah secara total, mentaatinya dalam keadaan ringan atau berat, tidak menyekutukanNya, dan menjadikanNya sebagai pengatur kehidupan kita.

***

Jangan biarkan mereka berdebat panjang tentang apa saja yang termasuk qanaah, mana yang termasuk sabar, mana yang termasuk tawakkal.

Namun. Ajarkan mereka untuk qanaah, tawakkal dan sabar. Ajarkan mereka untuk merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah. Ajarkan mereka berserah diri kepada Allah dalam segala kesempatan. Ajarkan mereka teguh dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Islam bukan untuk dihapal, Islam untuk diamalkan.

***

Cegah mereka dari perbuatan zina dan kemaksiatan lainnya. Bukan sekedar mencari hukum bacaan tajwid dalam ayat al-Quran tentang zina tersebut.

***

Ajarkan mereka untuk menjadikan hadits Nabi sebagai panduan hidup, bukan sekedar untuk menghapal perbedaan hadits fi'li, qawli, taqriri dan lainnya.

***

Kesimpulannya,
Bimbing mereka menjadi Muslim sejati, bukan sekedar menghapal materi untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi.

Sebab, Islam bukan mata pelajaran.
Sebab, Islam adalah metode kehidupan.

{dimulai 110313 10:40, selesai 110313 21:15}

ABAY ABU HAMZAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar