Selasa, 26 Maret 2013

Teori Belajar William Kaye Estes


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Era modern saat ini, khususnya di Indonesia banyak terdapat berbagai macam gaya pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dari berbagai macam gaya tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu agar para mahasiswa lebih aktif dan terjadi perubahan perilaku akibat proses belajar tersebut, diantaranya dari hal tidak bisa menjadi bisa, hal sederhana menjadi kompleks.
Para pendidik atau pengajar pada saat ini dapat melakukan tugas dengan baik karena pendidik mengetahui tentang teori-teori terdahulu yang menjadi sebuah acuan bagaimana pendekatan dan metode yang digunakan pada peserta didik untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dari proses belajar tersebut, yaitu pesan yang disampaikan oleh pendidik dapat diterima dan dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik.
Salah satu tren era modern saat ini dalam teori belajar adalah menjauhi teori yang luas dan komprehensif dan menuju ke sistem yang lebih kecil. Para periset memfokuskan diri pada suatu area yang mereka minati dan mengeksplorasinya secara menyeluruh. Keluasaan akan mengorbankan kedalaman. Contoh dari tren ini apa yang disebut sebagai teoretisi belajar statistik, yang berusaha membangun minisistem yang kukuh untuk meneliti sederetan fenomena belajar. Salah satu yang paling awal adalah teori menurut Estes pada tahun 1950.
Dari penjelasan di atas, maka dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang teori yang dikemukakan oleh William Kaye Estes yang lebih dikenal dengan sebutan teori Estes.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah:
1.      Siapa William Kaye Estes?
2.      Teori apa yang dikemukakan oleh Estes?
3.      Bagaimana teori yang dikemukakan oleh Estes?
C.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui apa saja dan bagaimana implementasi dari teori yang dikemukan oleh Estes.
D.     Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu:
1.      Bagi Mahasiswa
Dapat mengetahui pengetahuan tentang teori belajar menurut Estes dan manfaat yang dapat diterapkan dalam proses belajar saat ini.
2.      Bagi Dosen Pengampu Mata Kuliah
Diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan penulis, mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan tentang teori belajar menurut Estes dan manfaat yang akan ditimbulkan dari teori tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    William Kaye Estes
William Kaye Estes lahir pada tahun 1919, mengawali karier profesionalnya di University Of Indiana. Estes kemudian pindah ke Stanford University dan selanjutnya ke Rockfeller University dan mengakhiri kariernya di Havard di mana dia mendapat gelar profesor emeritus . Pada 1997 Estes dianugerahi Medal of Science yang merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh National Sience Foundation. Penghargaan ini diberikan berkat jasanya bagi teori kognisi dan belajar fundamental yang mengubah bidang psikologi eksperimental dan memicu perkembangan ilmu kognitif kuantitatif. Metode modeling kuantitatif dan penekanannya pada ketepatan dan ketelitian telah menjadi standar bagi ilmu psikologi modern.
William K. Estes belajar bersama Skinner ketika Skinner berada di Universitas Minnesota dan di sana pula ia menerima gelar Ph. D-nya di bidang psikologi pada tahun 1943. Karya bersama Estes dengan Skinner mengenai efek hukuman menghasilkan kontribusi penting bagi pemikir Skinner dalam topik tersebut. Bagaimanapun juga, minatnya untuk membangun model-model pembelajaran matematis telah memisahkan arah yang ditempuhnya dari bisa antiteoretis Skinner. Selain itu, asumsi-asumsi dalam teori Estes nampak lebih memperlihatkan pengaruh Guthrie yang tidak pernah menjadi rekan studinya,karena pengaruh Skinner.
B.     Konsep Teoretis Utama
Ada beberapa asumsi yang dibuat oleh Estes yang dijabarkan sebagai berikut:
Asumsi 1. Situasi belajar terdiri dari banyak elemen stimulus dalam jumlah tertentu. Elemen-elemen ini terdiri dari banyak hal yang dapat dialami pembelajar pada awal percobaan belajar. Stimuli-stimuli itu bisa mencakup kejadian eksperimental seperti cahaya, suara berisik, materi verbal yang disajikan dalam drum memori, palang dalam kotak Skinner, jalur T. Stimuli itu juga bisa stimuli yang dapat diubah atau stimuli sementara seperti perilaku eksperimenter, suhu, suara tambahan di dalam dan di luar ruang dan kondisi di dalam diri subjek eksperimen seperti keletihan atau sakit kepala. Semua elemen stimulus ini secara kolektif disimbolkan sebagai S. Sekali lagi, S adalah jumlah total dari stimuli yang mengiringi satu percobaan dalam situasi belajar.
Asumsi 2. Semua respon yang diberikan dalam situasi eksperimen dapat digolongkan menjadi dua kategori. Jika responnya adalah yang dicari oleh eksperimenter (seperti keluarnya air liur, mata berkedip, menekan palang, berbelok ke kanan di jalur T, atau melafalkan suku kata yang tak bermakna dengan benar), ini dinamakan respon A1. Jika responnya adalah bukan yang dicari oleh eksperimenter diberi label A2. Jadi, Estes membagi semua respon yang mungkin muncul dalam eksperimen belajar menjadi dua kelompok, (A1) respon yang benar atau (A2) respon yang lainnya.
Asumsi 3. Semua elemen di S dilekatkan dengan A1 atau A2. Ini adalah situasi all or nothing. Semua unsur stimulus dalam S adalah dikondisikan ke respon yang diinginkan atau benar (A1) atau ke respon yang tidak relevan atau salah (A2).Pada awal eksperimen, hampir semua stimuli akan dikondisikan ke A2 akan menimbulkan respon A2. Respon yang benar terjadi hanya setelah respon dihubungkan dengan stimuli dalam konteks eksperimental.
Asumsi 4. Pembelajar terbatas kemampuannya dalam mengalami S. Pembelajar mengalami hanya sebagian dari stimuli yang tersedia pada setiap percobaan belajar dan besarnya sampel diasumsikan tetap konstan di sepanjang eksperimen. Proporsi konstan dari S yang dialami pada awal setiap percobaan belajar dilambangkan dengan Ɵ (theta). Sesudah setiap percobaan, elemen Ɵ dikembalikan ke S. Jadi teori Estes mengamsusikan sampling dengan penggantian (sampling with replacement). Elemen-elemen yang dijadikan sampel pada satu percobaan mungkin akan dijadikan sampel lagi pada percobaan selanjutnya.
.Asumsi 5. Percobaan belajar berakhir ketika respon terjadi, jika respon A1menghentikan percobaan elemen-elemen stimulus dikondisikan dalam respon A1.
Asumsi 6. Karena Elemen di (өdikembalikan ke S pada akhir percobaan, dan arena tetha (өyang dijadikan sampel pada awal percobaan belajar pada dasarnya adalah acak, proporsi elemen yang dikondisikan ke A1 dalam S akan tercermin dalam elemen dalam tetha (өpada awal setiap percobaan baru. Berdasarkan asumsi-asumsi diatas, maka Estes mengemukakan empat konsep teoretis utama , yaitu:
1.    Generalisasi
Generalisasi dari situasi belajar awal ke situasi belajar lainnya dapat dengan mudah dijelaskan dengan teori sampling stimulus. Transfer terjadi sepanjang dua situasi memiliki elemen stimulus yang sama. Jika banyak dari elemen yang sebelumnya dikondisikan ke respon A1 ada didalam situasi belajar yang baru, probabilitas respon A1 akan muncul ke dalam situasi baru itu akan cukup tinggi.
2.    Pelenyapan
Estes menjelaskan problem pelenyapan dengan cara yang pada dasarnya sama dengan yang dilakukan Guthrie karena dalam pelenyapan satu percobaan biasanya diakhiri setelah subjek melakukan sesuatu selain A1, elemen stimulus yang sebelumnya dikondisikan ke A1 pelan-pelan akan kembali lagi ke A2. Hukum untuk pelenyapan adalah sama. Apa yang dinamakan pelenyapan muncul setiap kali kondisi disusun sedemikian rupa sehingga elemen stimulus digeser dari respon A1 ke respon A2.
3.    Pemulihan Spontan
Merupakan munculnya kembali respon yang dikondisikan setelah respon itu mengalami pelenyapan.dengan kata lain pemulihan spontan dijelaskan dengan mengasumsikan bahwa proses pelenyapan (pergeseran elemen dari A1 ke A2) pada awalnya tidak pernah komplet.
4.    Pencocokan Probabilitas
 Eksperimen pencocokan probabilitas tradisional adalah menggunakan sinyal cahaya yang diikuti satu atau dua cahaya lain. Ketika sinyal menyala, subjek percobaan menduga cahaya mana dari dua cahaya lain yang akan muncul. Misal, cahaya kanan muncul 80% dari waktu, subjek akan memprediksi bahwa cahaya itu akan muncul 80% dari waktu percobaan.

C.    Model belajar markov menurut estes
Semua teori belajar statistikal bersifat probabilistik, yakni variabel bebas yang mereka studi adalah probabilitas respon. Tetapi ada perbedaan opini mengenai apa sifat dari belajar yang ditunjukkan oleh perubahan probabilitas  respon ini kepada kita. Perdebatan klasiknya adalah apakah belajar itu gradual atau langsung lengkap dalam satu kali percobaan. Thorndike berpendapat bahwa belajar adalah bertahap dan bertambah sedikit demi sedikit dari satu percobaan kepercobaan selanjutnya. Hull dan Skinner sepakat dengan Thorndike. Guithrie berpendapat lain dengan mengatakan bahwa belajar terjadi dalam cara all-0r-none (secara sekaligus atau tidak sama sekali) , namun terlihat gradual karena kompleknya tugas yang mesti dipelajari.
Teori sampling stimulus estes menerima sudut pandang inkremental (gradual) maupun all-or-none tentang proses belajar.elemen yang dijadikan sampel ini dikondisikan secara all-or-none ke respon apa saja yang menghentikan percobaan itu .aan tetapi karena hanya sebagian kecil dari proporsi elemen yang dikondisiskan pada satu percobaan tertentu , proses belajar berlangsung sedikit demi sedikit, dan karenanya maka tercipta kurva akselerasi belajar negatif. Sekali lagi, pendapat estes adalah bahwa elemen stimulus yang dijadikan sampel pada satu percobaan tertentu dikndisikan denan cara all-or-none; nmun karena hanya sedikit yang dijadikan sampel pada satu percobaan , belajar berlangsung secara inkremental atau gradual. Probabilitas munculnya respon A1 berubah secara gradual dari satu percobaan ke percobaan selanjutnya  dan jika jumlah total elemen stimulus yang ada dalm eksperimen cukup banyak, sifat all-or-none ini tidak dapat dideteksi. Artinya, dengan banyak elemen stimulus yang ada dalam satu eksperimen, maka hanya terjadi  perubahan kecil dalam probabilitas respon dari satu percobaan belajar kepercobaan belajar selanjutnya, dan ketika probabilitas di plot, ia akan tampak inkremental etimbang all-or-none.
Belakangan,Estes mendesain sejumlah studi yang memungkinkan proses belajar diamati secara lebih detail ( misalnya, Estes,1960, 1964a;Estes, Hopkins, & Crothers,1960). Studi studi ini menunjukkan bahwa ketika jumlah elemen yang dijadikan sampel sangat sedikit, belajar jelas berlangsung all-or-none; dalam kenyataannya, dapat dikatakan bahwa belajar terjadi secara lengkap dalam stu percobaan atau tidak terjadi sama sekali.—tidak ada posisi ditengah-tengahnya.perubahn cepat dari keadaan belum belajar ke keadaan telah belajar ini dikatakan berhubungan dengan Markov process( proses Markov), yang dkarakterisasikan oleh perubahan mendadak dalam probabilitas respons ketimbang perubahan pelan dan bertahap dari satu percobaan ke percobaan selanjutnya.

D.    Estes dn psikologi kognitif
Meskipun Estes seorang teoritisi kontiguitas, namun ditahun tahun belakangan ini dia lebih menekankan pada mekanisme kognitif dalam analisisnya terhadap belajar(lihat, misalnya, Estes 1969a,1969b, 1971, 1972, 1973, 1978). Seperti yang telah kita lihat, analisis awalnya mengikuti pendapat guthrie dengan mengasumsikan bahwa apapun stimuli yang ada pada saat terminasi suatu percobaan belajar akan diasosiasikan dengan respon yang menghentikan itu. Baik Guthrie maupun estes memandang belajar sebagai asosiasikejadian yang terjadi bersamaan secara mekanis dan otomatis. Pada intinya, organisme, termasuk manusia, dianggap sebagai mesin yang dapat merasakan , mencatat, dan merespon walaupun masih bersifat mekanistis, analisis Estes yang lebih belakangan lebih kompleks karena ia mempertimbangkan  pula pengaruh dari peristiwa kognitif.
Pentingnya memori. Pada awalnya Estes  berpendapat bahwa stimuli dan respon menjadi di asosiasikan oleh kontiguitas, dan setelah diasosiasikan, ketika stimuli terjadi, mereka akan mengahasilkan respon yang diasosiasikan pada stimuli itu. Belakangan, Estes menambahkan elemen ketiga ke dalam analisisnya,yakni memori atau ingatan ( lihat, misalnya, Estes 1969a, 1972, 1973, 1978). Dalam analisis Estes belakangan ini, stimuli tak langsung menimbulkan respon, tetapi ia membangkitkan memori dari pengalaman sebelumnya dan interaksi dari stimuli saat itu dengan memori tentang pengalaman sebelumnya itulah yang menghasilkan prilaku.
Memori juga berperan penting dalam analisis Estes terhadap operasi kognitif tingkat tinggi seperti yang melibatkan bahasa. Dengan mengikuti tradisi emperis inggris, estes mengasumsikan  bahwa memori- memori sederhana akan dikombinasikan untuk membentuk memori kompleks.
Model array kognitif: klasifikasi dan kategorisasi
Estes memandang  teori sampling  stimulus (SST) sebagai perluasan matematis dari teori transfer elemen identik Thorndike. Yakni teori itu dikembangkan untuk membuat prideksi yang tepat tentang transfer training dari situasi satu ke situasi lain, berdasarkan elemen elemen stimulus yang sama untuk keduanya.dalam  karya yang lebih baru, Estes (1994) menjelaskan problem yang pertama kali dikaji oleh Medin dan Shaffer(1978) dan meneruskan pengembangan pendekatan elemen identik Thorndike. tetapi, kali ini modelnya di aplikasikan secara spesifik ke perilaku mengklasifikasi dan mengkategorisasi. Meneliti suatu makhluk, mengamati bahwa ia berbulu, bisa terbang, dan bertelur dan kemudian menyebutnya sebagai ‘burung’ adalah contoh dari jenis perilaku ini.
Dalam model klasifikasi kognitif Estes orang di asumsikan akan meneliti stimulus kompleks dan memerhatikan ( atau mengambil sampel) ciri- cirinya yang menonjol atau penting . seperti dalam SST, ciri ciri stimulus itu, bersama dengan informasi tentang kategori atau keanggotaan kelasnya, dipelajari secara all-or-none, dalam satu kali percobaan.pada poin inilah pendekatan kognitif Estes, yang dinamakan array model ( model array), berbeda dengan SST. Dalam kasus model array , karakteristik stimulus dan designasi  kategori disimpan dalam memori sebagai suatu perangkat-suatu array-yang menyimpan ciri-ciri atau atribut penting dan siap dipakai untuk membandingkan atribut itu dengan atribut stimuli lain.ketika stimulus baru ditemui, ciri menonjol dari stimulus baru ini akan dibandingkan dengan stimulus yang telah dipelajari dan disimpan sebagai seperangkat ciri. Klasifikasi stimulus baru itu kemudian akan didasarkan pada kesamaan atributnya dengan atribut stimulus yang tersimpan dalam array memori.ada perbedaan tradisional antara SSt dan model array yang patut dikemukakan. Fokus SST adalah asosiasi stimulus-respon yang dibentuk di masa lalu dan pada cara asosiasi ini diakumulasikan. Fokus medel array adalah pada klasifikasi kejadian yang ditemui dimasa sekarang atau yang akan ditemui di masa depan.
SST Mengasumsikan Hubungan Stimulus  Aditif.  Meskipun baik itu SST maupun model array mereflesikan teori transfer elemen identik Thorndike, keduanya merefleksikannya dengan cara berbeda.
Satu problem signifikan dalam SST adalah bahwa dalam situasi yang lebih kompleks, teori ini tidak dapat menjelaskan efek detrimental yang muncul ketika pembelajar manusia dan nonmanusia diuji dalam konteks, atau dengan stimuli yang jauh berbeda dari konteks yang ada saat training. Dalam bukunya yang berjudul classification and Cognition, Estes (1994) menunjukkan bahwa kelemahan utamanya adalah pada asumsinya mengenai efek stimulus aditif –yakni ide konseptual dan matematis, yang ditunjukkan dalam contoh kita yang menyatakan bahwa elemen-elemen stimulus berpadu dalam cara aditif untuk memunculkan respon yang dipelajari. Sebagai alternatifnya, model array mengasumsikan bahwa elemen kombinasi secar multiplikatif ( multiplicatively) untuk memunculkan respons.

Model Array Mengasumsikan Hubungan Stimulus Multiplikatif. Menurut model array, kita menilai kesamaan stimuli dalam konteks baru yang berhubungan dengan stimuli dalam situasi training dengan membandingkan atribut-atribut dari elemen itu.
Model array dimaksudkan untuk mendiskripsikan dan memprediksi bagaimana orang menilai stimuli untuk dikategorikan dalam kategori spesifik, bukan bagaimana respons yang dikondisikan digeneralisasikan atau ditransfer ke situasi baru, dan kita dapat menggunakan stimuli dari problem generalisasi kita untuk mendemonstrasikan dasar-dasar model array.
v  Item dalam Satu Kategori adalah Sama Satu dengan yang Lain.
Langkah pertama dalam mengembangkan model array untuk problem diatas adalah menentukan item-item didalam kategori. 
v  Item-item Stimulus Mempresentasikan Seluruh Kategori.
Langkah selanjutnya dalam mengaplikasikan model array adalah menentukan sejauh mana stimulus parsial adalah mewakili kategorinya secara kesuluruhan.


  Estes (1994) menyatakan dalam tulisannya bahwa : Pada awal setiap percobaan setelah yang pertama, subjek menghitung kesamaan anatara contoh-contoh yang disajikan ke setiap anggota dari array memori saat ini, menjumlahkan kesamaannya dengan semua anggota yang diasosiasikan dengan masing-masing kategori, menghitung   probabilitas setiap kategori, dan memberikan respons berdasarkan probabilitas ini. Tentu saja, tidak diasumsikan bahwa individu menjalankan perhitungan ini seperti yang dilakukan komputer, namun diasumsikan bahwa sistem pemrosesan penghitungan untuk mendapatkan probabilitas respons adalah mirip dengan proses yang dihasilkan oleh komputer yang diprogram untuk mensimulasi model itu.
Dengan analisis ini, sudah jelas bahwa Estes telah menyentuh psikologi kognitif.
Pandangan Estes tentang Perang Penguatan. Estes percaya bahwa penguatan akan mencegah terjadinya hilangnya asosiasi dengan cara mempertahankan asosiasi antara stimuli tertentu dengan respon tertentu.
Menurut Estes, organisme bukan hanya belajar hubungan S-R tetapi juga hubungan R-O (response-outcome). Yakni, organisme belajar, dan mengingat, respons mana yang akan menimbulkan konsekuensi tertentu. Organisme hanya belajar apa yang menimbulkan konsekuensi, dan informasi ini menentukan respons mana yang akan dipilih.
Dalam analisisnya dalam penguatan, Estes membuat perbedaan penting antara belajar dan performa. Meskipun pendapat Estes menekankan mekanisme kognitif (memori) dan ia memandang penguatan dan hukuman sebagai penyedia informasi bagi organisme, pandangannya ini masih menganggap manusia itu seperti mesin. Hulse, Egeth, dan Deese meringkas pendapat Estes tentang bagaimana penguatan dan hukuman secara otomatis memandu perilaku :
Fungsi penguatan dalam teori Estes bukan unuk menguatkan secara langsung formasi asosiasi baru; kontiguitas sederhana sudah cukup. Dalam hal ini dia sejalan dengan Guthrie. Kejadian penguatan memiliki efek performa, yang dalam term Guthrie berarti tendensi urutan tertentu dari respons yang telah dipelajari untuk mendapatkan beberapa capaian final. Fungsi penguatan memiliki adalah menyediakan umpan balik (feedback) bedasarkan antisipasi.... terhadap imbalan atau hukuman yangakan datang yang beriringan dengan stimuli yang ada (atau yang diambil dari memori) dalam situasi belajar sehingga ia  memandu munculnya perilaku dalam cara tertentu. Dengan kata lain, teori Estes menekankan model sibernetika untuk pengaruhi penguatan terhadap performa: perilaku dipandu ke tujuan dan menjauhi situasi aversif melalui umpan balik positif atau negatif dari kejadian penguatan.
Estes, Tolman, dan Bandura percaya bahwa kita mempelajari apa-apa yang kita lihat dan belajar bagaimana informasi ini diterjemahkan ke dalam perilaku bedasarkan tujuan organisme.


E.     Belajar Untuk Belajar
       
Kontroversi mengenai pendapat belajar inkremental versus all-or-none (terkadang disebut continuity-noncontinuity controversy) masih ada. Contoh yang tampaknya memuaskan bagi kedua pendapat yang berseteru itu adalah pendapat awal Estes bahwa, dengan lingkungan belajar yang kompleks, proses belajar berlangsung dengan cara sekaligus atau tidak sama sekali (all-or-none), hanya saja ia berjalan sedikit demi sedikit pada satu waktu. Sesungguhnya, secara logika, teori belajar inkremental juga dapat direduksi menjadi teori all-or-none.
F.     Status Terkini Model Matematika untuk Belajar

Pendekatan Estes sesugguhnya sering disebut sebagai model matematika untuk belajar sebab dia berusaha menunjukkan bagaimana proses belajar dapat dideskripsikan dalam term rumus matematika. Karenanya, ketika ada kesempatan untuk menggunakan matematika dengan cara baru untuk ilmu psikologi, model matematika disambut denga antusias dan optimis. Belakangan ini ada banyak rumus matematika yang bermacam-macam untuk mendiskripsikan fenomena belajar yang berbeda-beda. Model matematika memang belum mengalami sintesis yang berarti; namun ia menjadi ciri dari pendekatan baru untuk bidang ini.

G.    Evaluasi Teori Estes
Kontribusi
Shepard (1992) melihat Estes sebagai tokoh utama yang mempengaruhi perubahan arah teori belajar, yang menggerakkannya di bidang yang berorientasi lebih kognitif yang dicirikan oleh “paparan formal yang elegan dan ketetapan konseptual.  yang dipadukan dengan dasar yang kukuh dalam observasi. Apabila kita membandingkan matematika SST dengan rumus Hull, kita melihat bahwa pendekatan Estes cukup sederhana, hanya menggunakan dua faktor yang mengombinasikan prinsip-prinsip teori probabilitas yang logis. Seperti Guthrie, teori belajarnya hanya membutuhkan kontiguitas dan, seperti Guthrie lagi, dia mengemukakan intervensi sebagai penyebab pelenyapan dan lupa. Tetapi, dalam SST, logika probabilitas dan sampling-lah yang menimbulkan prediksi teori ini, termasuk kurva belajar atau kurva pelenyapan.
Kritik
Ada sejumlah kritik yang ditujukan ke teori Estes. Pertama, dan yang paling sering terlihat eleh mahasisa teori belajar, adalah berkenaan dengan cakupan teori yang amat terbatas. Kedua, shepard mengamati bahwa estes dan rekan-rekannya menyusun abstraksi matematika dalam teori dalam kondisi eksprimental yang terbatas.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Estes memandang belajar bukan hanya pengkondisian atas banyak hubungan stimulus-respon, tetapi terdapat hubungan antara response-outcome yang mana kemudian Estes membagi respon yang ada ke dalam dua kategori, yaitu respon yang menghasilkan hasil tertentu dan respon yang tidak menghasilkan.
B.     Saran
1.      Bagi dosen pengampu mata kuliah seminar pendidikan matematika diharapkan dapat membantu dalam proses belajar mengajar di kelas dengan menerangkan dan menjelaskan materi yang menyangkut tentang teori belajar menurut Estes.
2.      Bagi mahasiswa pendidikan matematika diharapkan makalah ini dapat memberikan pengetahuan terutama tentang teori belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar